Inspiring Article

Picture1 Picture2 Picture3 Picture4 Picture5 Picture6 Picture7 Picture8

Advertisements

KUAT MENGHADAPI MASALAH

Hari-hari ini banyak sekali anak-anak Tuhan yang jatuh, tidak sedikit dari mereka bahkan murtad. Pada akhir zaman ini kita harus semakin mengenal kebenaran untuk bertahan dalam menghadapi masalah. Tanamkanlah pengertian-pengertian berikut dalam diri anda :
1. Semua orang punya masalah
Bila anda merasa kecewa dan down karena mengalami masalah yang besar, anda seperti tidak mau menerima keadaan maka berpikirlah bahwa ternyata semua orang yang hidup di dunia ini ternyata juga mengalami masalah. Masalah orang lain bahkan lebih besar dari apa yang kita hadapi. Oleh sebab itu saya sangat mendukung kegiatan persekutuan Komsel (Komunitas Sel). Dalam persekutuan itu terdapat sharing dan curhat, selama ini beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa seakan-akan Tuhan tidak adil. Seringkali kita juga berpikir jauh lebih baik menjadi si A atau si B, kehidupan orang lain tampak lebih nyaman, masalah kurang dan penuh sejahtera. Akan tetapi bila kita mau tahu ternyata tanpa kita sadari orang-orang yang kita anggap demikian ternyata memiliki masalah-masalah yang lebih pelik. Bukankah adil bila semua orang memiliki masalah ? Bila seandainya hidup anda banyak masalah namun saya tidak ada masalah sama sekali barulah anda boleh komplain kepada Tuhan.

I Tesalonika 3:3 supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu.
Perhatikan baik-baik kata-kata diatas, jelas dimaksudkan bahwa kehidupan manusia memang telah ”diprogramkan” untuk diwarnai dengan masalah-masalah kehidupan. Selama kita masih bernafas dan berpijak di bumi ini kemanapun kita pergi masalah akan terus ada. Saya pikir anda akan merasa sedikit lebih baik bila anda berpikir bahwa toh orang lain juga punya masalah. Dengan pemahaman demikian kita tidak akan bersungut-sungut atas keadaan kita sekarang. Mau bicara buruk tentang diri kita, ada orang lain yang jauh lebih buruk lagi dari kita. Tabahlah dalam pelbagai pencobaan, jangan sampai segala kesusahan dan penderitaan dalam kehidupan ini membuat kita murtad atau menghujat Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini Tuhan izinkan dengan maksud yang mulia. Amin.

2. Masalah yang kita alami tidak akan pernah melebihi kemampuan kita.
Banyak orang kristen yang jatuh ketika menghadapi masalah bukanlah karena masalah yang dihadapi terlalu besar, melainkan sikap mental yang salah dalam menghadapinya. Bila kita memegang erat Firman Tuhan yang mengatakan bahwa
1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Percayalah bahwa anda selalu bisa menghadapi segala masalah, Firman Tuhan sendiri yang menjaminnya.

Filipi 4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Luar biasa janji Firman Tuhan, bayangkan saja ayat tersebut dengan tegas mengatakan ”Segala perkara” yang artinya tidak terkecuali. Semua pencobaan dan masalah benar-benar memang dapat kita tanggung, namun perlu diketahui ayat tersebut menyatakan bahwa di dalam Dialah kita dapat menanggungnya. Implikasinya adalah ”di luar” Dia kita tidak akan sanggup menanggung masalah-masalah. Mengapa ? sederhana sekali…sebab hanya di dalam Dialah terdapat kekuatan yang sejati, di luar Tuhan memang tidak ada kekuatan. Jangan-jangan selama ini anda telah berusaha untuk menghadapi masalah dengan kekuatan sendiri sehingga tidak heran bila anda pun jatuh..jatuh dan jatuh. Hanya di dalam Yesus Kristuslah terdapat jalan keluar dan kekuatan. Amin.

Masalah besar dan masalah kecil

Percaya atau tidak ternyata orang-orang kristiani lebih cenderung jatuh pada masalah-masalah kecil dibanding masalah-masalah besar. Kenapa bisa terjadi demikian ?. Ketika diperhadapkan kepada masalah yang besar orang kristiani sangat bergumul dan berjuang untuk mendapatkan pertolongan dengan mencari-cari TUHAN, mereka merasa semua seakan-akan telah berakhir dengan badai besar tersebut sehingga mereka benar-benar berserah dan berharap kepada kekuatan Tuhan maka tidak heran pula bila mereka sanggup melewatinya dan menjadi pemenang atas masalah tersebut karena ada penyertaan dan campur tangan Tuhan didalamnya. Namun sebaliknya ketika anak-anak Tuhan mengalami masalah yang mereka anggap kecil, remeh temeh dan mudah untuk dihadapi justru mereka jatuh dan dikalahkan oleh masalah tersebut. Kejatuhan dan kegagalan itu dapat terjadi karena tidak ada Tuhan didalamnya.
Berapa banyak orang kristiani yang merasa tidak butuh Tuhan pada saat-saat tertentu? banyak sekali. Mereka pikir dalam masalah-masalah tertentu mereka dapat menghadapinya sendiri sehingga membuat mereka meremehkan masalah tersebut sehingga Tuhan tidak lagi dilibatkan. Beranjak dari pikiran bahwa tanpa Tuhan, masalah ini dapat saja diatasi sendiri, sikap tersebut sungguh tidak mengandalkan Tuhan dan berakibat kepada tidak adanya penyertaan Tuhan. Iblis langsung tangkap kesempatan ini untuk menjatuhkan kita karena dia tahu benar kita sedang tidak mengandalkan Tuhan, jadi sangatlah mudah menghancurkan kita didalam masalah tersebut. Iblis sungguhlah licik, dia selalu mendesign masalah-masalah yang kelihatannya sepele dan kecil agar dalam menghadapinya kita tidak mengandalkan Tuhan, sehingga dengan mudah oknum jahat ini dapat menjatuhkan kita.

Ukuran keberhasilan anak-anak Tuhan dapat berhasil melewati masalah bukanlah karena besar kecilnya masalah dan bukan pula ditentukan oleh besar kecilnya kekuatan kita sebagai manusia, tetapi semata-mata karena ada atau tidaknya penyertaan Tuhan didalam setiap masalah yang kita hadapi.
 Masalah yang besar dan dihadapi dengan ketegaran atau kekuatan pribadi yang lemah bukan berarti kita tidak sanggup melewatinya dengan menjadi pemenang. Meskipun kita sangat lemah, dan badai yang menantang begitu besar kita sanggup melaluinya dengan berhasil, dengan penyertaan Tuhan. Sebesar apapun masalah didepanmu dan sekecil apapun kekuatanmu bersama Tuhan engkau tetap sanggup menjadi pemenang atas masalah itu.

Ingatlah akan perkelahian Daud dan Goliat, Goliat adalah gambaran dari masalah yang begitu besar sedangkan Daud menggambarkan manusia yang penuh kelemahan dan tentu tidak sebanding dengan Goliat lawannya. Dengan Daud membawa 5 batu kecil bersamanya membuktikan bahwa dia lemah, mengapa mesti sampai lima bukan satu saja. Tetapi pertanyaannya batu keberapakah yang menjatuhkan Goliat ? Batu yang pertama. Kenapa ? apakah batu pertama itu kebetulan yang paling tajam dan besar sehingga mematikan ? tidak. Apakah kebetulan ketika Daud melemparkannya sedang kuat-kuatnya karena itu lemparan pertama jadi kekuatannya masih fresh ? tidak. Apa yang membuat Daud menang telak? Bukan karena batu atau Daud, ia sudah jelas jelas tidak sebanding dengan Goliat. Perkataan Daud benar-benar luar biasa, dia berkata

“engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Tuhan segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17 : 45.

 Masalah yang kecil dan kekuatan pribadi yang kuat dan dirasakan secara logis dapat menanggungnya sendiri sama sekali tidak menjamin engkau akan menang atas masalah itu. Mau sekuat apapun dirimu dengan masalah yang sekecil apapun, tanpa Tuhan Yesus engkau pasti tetap jatuh. Jangan pernah meremehkan segala sesuatu, ketika engkau merasa terlebih kuat dari masalah yang sedang dihadapi berarti hanya kesombonganlah yang ada pada dirimu dan tidak ada Tuhan didalamnya. Sebagaimana bangsa Israel yang telah dengan sukses menjatuhkan Yerikho tetapi ketika hendak menggempur dan menguasai kota Ai yang jauh lebih kecil dibandingkan Yerikho bangsa Israel malah terpukul kalah. Yosua 7 : 2-5

Ada atau tidaknya penyertaan Tuhan sangat menentukan keberhasilanmu dalam menghadapi masalah. Tanpa Tuhan jangan pernah pikir engkau sanggup menghadapi segala sesuatu. Tetapi bersama Tuhan sudah pasti kemenangan selalu berada dipihak kita.

Ayat-Ayat Untuk Membantu Seorang Kristen

Jaminan Keselamatan

  • Yohanes 10:27-29 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa
  • Yohanes 3:36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
  • Yohanes 5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
  • 1 Yohanes 5:1 Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.
  • 1 Yohanes 5:10-13 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.
  • Roma 8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.
  • 1 Yohanes 3:14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

Kehidupan Doa Yang Salah

  • Matius 6:7-8 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
  • Yakobus 4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu
  • Yakobus5:16-18 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.
  • Yohanes 14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak
  • Roma 8:26, 27 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.
  • Yohanes 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Kelemahan Dalam Hidup

  • Yohanes 8:31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku”
  • Efesus 4:29-32 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

The Way Home to Jesus

The Way Home

ImagesHere are the key elements by which we become reconciled to the Father. Each is vitally important. Any, if absent, could keep our new relationship from being complete.

Our condition: First, we must understand that we are separated from God. The chasm dividing us is both wide and deep. We inherited a fatal defect at birth. As a result, we have lived our lives independently from him. The Bible emphasizes this stark reality: “For all have sinned and fall short of the glory of God” (Romans 3:23). If we can’t come to grips with the fact that sin separates us from God, we’ll never come home spiritually, for there is no need for a savior.

God’s remedy: Second, we need to be very clear in understanding who Jesus is and what he has done for us, in order that we might confidently place our faith in him. He bridged the chasm separating us from God. In the apostle John’s words: “For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life” (John 3:16).

Jesus was not just a good man, a great teacher, an inspired prophet. He came to earth as the Son of God. He was born to a virgin. He led a sinless life. He died. He was buried. He rose again on the third day. He ascended into heaven where he became both Lord and Christ.

Jesus’ death and resurrection on our behalf satisfied God’s requirement – complete provision for our sin. This Jesus, and he alone, is qualified to be the remedy for my sin and yours.

Our response – to repent and believe.

Personal repentance is vital in the transformation process. Repentance literally means “a change of mind.” It is to say to the Father, “I want to turn toward you and away from the life I’ve lived independently from you. I am sorry for who I’ve been and what I have done and I want to permanently change. I receive your forgiveness for my sins.”

Many at this point experience a remarkable “washing” from a lifetime’s accumulation of all that can degrade a person’s soul and spirit. Whether or not we sense God’s forgiveness, if we repent, we can be very certain that we’re forgiven. Our confidence is based on God’s promise to us, not how we feel. 
Jesus_1
We come into a personal relationship with the Lord when we make life’s greatest decision – the turning point referred to earlier. It is to believe that Jesus is the Son of God, the One who died for our sins, who was buried and was raised from the dead – and to receive him as our Savior and Lord. When we believe in this way, we become God’s children. This is emphatically promised in John’s gospel: “To all who received him, to those who believed in his name, he gave the right to become children of God” (John 1:12).

Would you like to receive Jesus Christ as your savior? If you would, you can pray a prayer like this:

“Jesus, I need you. I repent for the life I’ve lived apart from you. Thank you for dying on the cross to take the penalty for my sins. I believe you are God’s Son and I now receive you as my Savior and Lord. I commit my life to follow you.”

In the Name of Jesus I pray. AMIN !

My beloved Wife

my-mariage.JPG

Hanung Prefianto

My Life Journey

Pengabdian Hidup Berpasangan

Pengabdian Total
Bukan hanya sebagian, tetapi semuanya. Bukan untuk waktu yang pendek, melainkan selama hidup itu masih diberikan Tuhan.

Pengabdian untuk mengasihi
Setelah berbagai macam peristiwa yang terjadi, seringkali perasaan dan emosi untuk mengasihi menjadi lenyap. Saat itulah keduanya seharusnya tetap mengasihi, bukan lagi dengan emosi atau perasaan, melainkan dengan kehendak dan komitmen, sampai emosi dan perasaan itu muncul kembali. Begitulah keduanya belajar untuk setia mengasihi

Pengabdian untuk bebas dari masa lalu
Banyak kehidupan berpasangan hancur oleh karena kenangan pahit masa lalu yang tersimpan menjadi sakit hati. Berbuat kesalahan, beda pendapat, salah paham, dan perselisihan adalah bagian dari kehidupan berpasangan. Setiap kali hal itu terjadi, keduanya harus dapat menyelesaikan dan kemudian tidak mengingatnya lagi.

Pengabdian untuk berubah
Ingin menang sendiri adalah bentuk kesombongan dan awal dari kehancuran. Diri kita belum sempura begitu pula pandangan kita. Jika keduanya melakukan kesalahan dan kemudian menyadarinya, maka kerelaan untuk berubah adalah bentuk nyata kasih.

Pengabdian untuk menyelesaikan konflik
Konflik yang tidak diselesaikan atau tidak tuntas membuat banyak masalah dikemudian hari. Di dalam kehidupan berpasangan sesekali terjadi konflik, disinilah keduanya harus belajar untuk menyelesaikan konflik yang ada secara tuntas dan ini membutuhkan itikad baik dari keduanya.

Pengabdian untuk menguasai kemarahan
Janganlah keduanya hancur oleh karena kemarahan, apapun yang terjadi, keduanya harus menguasai dan mengendalikan kemarahan. Alkitab memberi batasan sampai matahari terbenam.

Pengabdian untuk mengampuni dan berdoa bersama
Pengampunan adalah prinsip hidup orang percaya, makin banyak waktu yang diberikan untuk bergaul dengan seseorang makin besarlah kemungkinan terjadi perselisihan. Demikian juga dalam berpasangan saling mengampuni dan berdoa bersama adalah kunci hidup berpasangan yang langgeng.

Pengabdian untuk bersekutu
Akan berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum bersehati?
Bersekutu bersama adalah kunci dari kesehatian dan juga merupakan tindakan nyata untuk melibatkan Tuhan di dalam kehidupan berpasangan sehari-hari. Bersekutu bersama juga memberikan contoh nyata kehidupan kristiani bagi orang lain.

Pengabdian untuk mengerti
Mengerti orang lain adalah perkara sulit, namun lebih sulit untuk mengerti diri sendiri masuk dalam kehidupan berpasangan akan membuat kesadaran bahwa ada banyak hal yang belum dimengerti dari diri sendiri. Kehidupan berpasangan juga adalah kehidupan saling membantu mengerti diri.

Pengabdian untuk berkomunikasi
Setiap permasalahan yang terjadi adalah bersama dan harus dihadapi bersama. Tidak dapat dikatakan bahwa itu adalah persoalan paanganku atau bukan persoalan pasanganku. Itu sebabnya komunikasi yang baik adalah kunci keharmonisan dalam kehidupan berpasangan.

Pengabdian untuk mengambil keputusan bijaksana
Banyak kali suatu keputusan yang diambil dalam keadaan emosi justru berakibat menghancurkan, oleh sebab itu dalam menghadapi berbagai macam persoalan harus mengambil keputusan bijaksana dengan hati yang dingin dan dengan bantuan pasangan.

Pengabdian untuk mengevaluasi
Pengharapan-pengharapan dalam hidup berpasangan seringkali kenyataan yang ada tidak sesuai dengan pengharapan. Tanpa menyesali segala sesuatu yang telah terjadi dibutuhkan kedewasaan sikap untuk dapat mengevaluasi pengharapan-pengharapan yang pernah dibuat dan diperbaiki bersama.

Pengabdian untuk mengembangkan sasaran
Sejalan dengan hidup berpasangan, menghadapi perubahan dari segala sesuatu yang ada di sekitar, oleh sebab itu keduanya perlu untuk mengembangkan sasaran hidup bersama seturut firman Tuhan.

Pengabdian untuk saling melayani
Melalui kehidupan berpasangan, keduanya belajar untuk hidup bagi orang lain, bukan lagi hanya bagi diri sendiri dan ini bukanlah hal yang mudah, oleh sebab itu perlu untuk membuat suatu pengabdian saling melayani. Kasih akan menolong untuk mengerti kebutuhan orang yang dicntai.

Pengabdian untuk membina hubungan baik dengan keluarga pasangan
Membina hubungan baik tidak hanya perlu dengan pasangan saja, namun juga dengan keluarga pasangan dan dengan berbuat begitu merupakan pernyataan kasih serta pengucapan syukur kepada Tuhan.

Di atas semua hal di atas adalah Pengabdian bersama untuk melayani TUHAN Inilah tujuan utama Tuhan di dalam hidup berpasangan ialah agar dapat bersama-sama melayani Tuhan, saling tolong menolong dan bekerja sama menyelesaikan panggilan dan tanggung jawab yang sudah Allah berikan.

Bagaimana Keluarga Dimulai

Keluarga-keluarga yang ada dimuka bumi ini, adalah merupakan rancangan Allah sendiri. Dialah yang berinisiatif menciptakan keluarga di muka bumi ini. Ketika Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah serta menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya, dan menempatkannya dalam taman Eden, maka Tuhan sendirilah yang berfirman, “tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”.

Ia sendiri yang mengambil ” salah satu rusuk ” dari manusia itu, dan dari ” rusuk ” itu dibangunNyalah seorang perempuan. Pengertian ” rusuk ” disini adalah ruang [chamber]. Jadi ketika Tuhan Allah mengambil “ruang” dari manusia itu, maka manusia itu menjadi “tidak lengkap” lagi tanpa seorang perempuan. Tanpa seorang perempuan, manusia itu tidak dapat memultiplikasikan dan memperluas dirinya melalui anak-anak ; karena hanya perempuan [ womb-man = manusia rahim ] yang dapat memberikan anak-anak kepadanya. Tanpa seorang perempuan, maka manusia itu kehilangan “sebagian dirinya”, yang membuatnya “tidak utuh”. Tetapi semua ini adalah rancangan sang Pencipta.

Demikianlah Tuhan Allah menghadirkan seorang perempuan bagi manusia itu sebagai penolong yang sepadan dengannya. Maka terciptalah apa yang disebut keluarga. Kejadian pasal 2 merupakan kisah bagaimana Tuhan Allah sendiri membangun keluarga pertama di muka bumi ini.

Setelah manusia jatuh dalam dosa, kita lihat ada banyak orang mencoba membangun keluarga. Namun tidak jarang keluarga-keluarga ini hancur berantakan dan tercerai-berai setelah sejangka waktu berjalan. Atau, kalaupun tidak bercerai, kehidupan yang ada di dalamnya sudah tidak seperti keluarga lagi. Masing-masing anggota keluarga sudah berjalan sendiri-sendiri. Suami, istri dan anak-anak mempunyai tujuan hidup masing-masing. Walaupun mereka masih hidup satu rumah, tidak ada lagi kesatuan seperti yang direncanakan Allah semula bagi suatu keluarga. Ini bukan saja terjadi pada keluarga-keluarga pada umumnya, namun seringkali terjadi juga dalam keluarga-keluarga yang menyebut dirinya Kristen. Mengapa ? Supaya genaplah firman Tuhan, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang membangunnya;”. Jika bukan Tuhan yang membangun keluarga, sia-sialah usaha orang membangunnya, baik itu orang-orang pada umumnya maupun orang Kristen.

Sdr/i, keluarga adalah rancangan dan ciptaan Allah sendiri. Tak ada seorangpun yang dapat membangun keluarga. Marilah kita berserah dan mengizinkan Dia membangun keluarga kita sendiri. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry